Perkembangan dunia perfilman didunia ini pastinya mengalami banyak perkembangan. Kita lihat dari produktivitas film yang tadinya hanya didominasi oleh film2 dari HOLLYWOOD, sekarang sudah banyak film2 yang diproduksi oleh berbagai negara lain, seperti India, France, Italy, China, Japan, Dll yang sudah mendunia. Untuk di tanah air sendiri, film produksi anak bangsa juga mulai bertumbuhan walau kita masih meragukan kwalitas dari film tersebut, tetapi paling tidak orang kita berusaha untuk mencintai karya anak bangsa sendiri. Indonesia dalam menghasilkan suatu film terkadang hanya melihat dari artisnya. Jika aktrisnya sedang naik daun dalam dunia sinetron maka dia akan diangkat dalam film layar lebar yang dimana gunanya hanya untuk mendatangkan Income untuk PH nya tanpa memikirkan tentang kwalitas dari film itu sendiri. Akhir-akhir ini film produksi Indonesia justru kebalikan dari pendapat yang tadi, yaitu dalam pembuatan film Indonesia, aktris yang dipakai adalah pendatang baru yang sama sekali tak dikenal --dengan catatan, orang baru itu bukannya memiliki Skill Acting melainkan berparas ayu, cantik, molek-- yang akhirnya menjadi sangat terpakai untuk dunia sinetron, apa yang terjadi dengan Indonesia ini, apakah orang yang tampang tak menjual tetapi memiliki kemampuan akting yang justru setaraf dengan Danzel Washington tak pernah dipandang???
Didunia sinetron sekarang dapat kita lihat “keganjalan” dilayar televisi kita. Kita lihat keberadaan dari para aktris dan aktor jaman sekarang. Peranan bagi remaja dilakoni oleh remaja, peran orang dewasa dilakoni oleh remaja, ini sangat tidak “enak” dipandang mata. Mengapa aktris-aktris remaja sekarang memerankan dirinya layaknya seorang yang telah berumur, yang memiliki wibawa, kebijaksanaan, ke-“uzur”-an yang dimana, harusnya tidak dimiliki oleh remaja-remaja itu. Kenapa tidak menggunakan saja pendatang baru yang lebih “match” untuk memerankan lakon tersebut, dengan menyesuaikan usia dari aktris tersebut. Jika saya melihat sinetron jaman sekarang ini saya merasa “jijik” menontonnya. Para remaja-remaja yang telah di make up menjadi “orang tua”, kemudian dia mulai berbicara layaknya orang yang sarat akan pengalaman hidup, kemudian dia berjalan layaknya orang yang memiliki wibawa, yang nota bene mereka hanyalah sekumpulan orang yang beruntung karena memiliki wajah yangb diatas rata-rata, dan memiliki financial yang berlebih yang –mungkin- gunanya untuk menjilat para produser-produser yang tak mengerti arti dari suatu seni peran.
Terkadang sempat terlintas dalam pemikiran saya, bahwa mereka(yang memiliki kuasa di dalam pembuatan suatu sinetron) yang entah namanya produser?? sutradara?? Kameramen?? Jukir?? Ato siapapun mereka- mereka itu mau bikin sinetron tapi kekurangan duit jadi yang dipakai orang-orang yang dibayar dengan jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan aktris-aktris senior yang handal dan benar-benar berpengalaman. Jika para senior memiliki bayaran -misal- Rp 200 juta/episode, maka para junior-junior memiliki bayaran Rp 100 juta/episode. Jika kita lihat dari Finansial maka “mereka” sangatlah untuk, apalagi jika sinetron tersebut laris ditonton di seantero jagat Indonesia.
Atau kemungkinan ke dua adalah para aktris senior merasa bahwa sinetron yang ditawarkan ke mereka kurang berbobot, tapi sapa tau mengapa tetapi yang diharapkan adalah janganlah memaksakan para junior untuk menempati posisi orang yang tidak seharusnya mereka perankan.
Ini hanyalah sedikit pendapat dari saya tentang perkembangan dunia Entertainment di Indonesia.
Nb: pendapat ini tidak secara khusus dikirim untuk suatu perusahaan, dan saya tidak akan mencantumkan nama institusi, nama orang, lokasi, dan Ini hanya sedikit unek-unek dari penikmat kebenaran…^-^
0 komentar:
Poskan Komentar